BIYAN - Dibayar Lebih Sama Bibi - Bagian 3 End

Hari H pun datang.,.hari kakak sepupu ane melangsungkan pernikahannya.,.,

Pagi nya ane udah siap2 untuk kerumah nenek, dan bersama nyokap dan bokap serta adik adik.,.

Setelah kejadian sore itu bibi ga pernah lagi kerumah nenek, dan hari ini kami bertemu lagi.,

Sekitar jam 9 pagi ane udah sampe di rumah nenek.,., kebetulan dirumah nenek ane di belakang terdapat kandang ayam yang sangat luas , dan di sana tempat kami parkir mobil keluarga karna kalo parkir di depan ga bakalan muat untuk tamu yang akan datang..

BIYAN - Dibayar Lebih Sama Bibi - Bagian 2

 

 

Setelah kejadian di kos ane , ga ada terjadi apa apa,.,bibi hanya sekali ke kota untuk tugas kerja ..

tapi beliau ga pernah ungkit waktu malam itu itu, begitupun ane..seperti biasa ane diajak makan, lalu di beri jajan dan kasih oleh oleh dari kampung dari nyokap..,

Sempat persaan ane kecewa sama bibi, soalnya seperti cinta bertepuk sebelah tangan hu .,.rasanya udah cinta, tapi ga pernah terulang lagii,.,dan ane tetap jalani hari seperti biasa kuliah dll.

BIYAN - Dibayar Lebih Sama Bibi - Bagian 1

 

 

Nama ane BIYAN, Saat Itu ane Umur 23 Tahun dan menjadi mahasiwa ars*t*k di Salah Satu Kota besar di Pulau jawa,

Doi adalah istri dari adik nyokap paling buntut, atau paman, saat itu umurnya hanya terpaut 5 tahun, saat itu umur doi baru 28 tahun dan udah punya anak yang baru sekolah PAUD. Doi bekerja di salah satu kantor kecamatan di daerah ane, dan paman bekerja di kantor lurah, dan otomatis doi sering ke ibukota propinsi tempat ane kuliah, untuk keperluan kecamtan.

Robby - Semua Karena Nafsu Birahi - Bagian 4

 

Mereka bergelut sepanjang hari hingga malam… Berkali-kali Robby menyetubuhi Bu Intan… Berkali-kali Bu Intan merasakan rahimmnya disembur terus-menerus oleh mani Robby yang hangat dan kental… Kontol Robby yang besar dan panjang benar-benar memuaskan dahaga liarnya yang binal… Ia begitu meresapi tusukan-tusukan kontol besar dan panjang Robby di lobang memeknya… Ia merasa kembali hidup penuh gairah… Robby begitu merasakan kepuasan seksual yang penuh ketika menggagahi wanita paruh baya itu.. bahkan mengetahui Bu Intan adalah istri orang semakin menggelorakan nafsu seksnya… Ia begitu bernafsu setiap kali menggenjoti tubuh Bu Intan… Dan ia selalu menghentakkan pinggulnya, menusuk sangat dalam ke lobang memek Bu Intan ketika kontolnya menyemprotkan mani ke dalam rahim Bu Intan.. Dan itu semua benar-benar memuaskan fantasi seksnya…

Robby - Semua Karena Nafsu Birahi - Bagian 3

 

 

Besoknya jam 09 pagi Robby dengan hanya memakai celana dalamnya sedang tiduran santai di kamar kostnya yang tidak jauh dari Kampus UNDIP. Tubunya yang atletis itu ia biarkan terbuka dan tersiram oleh dinginnya AC. Robby saat itu sedang membaca sms yang baru diterimanya dari Bu Intan.

Robby - Semua Karena Nafsu Birahi - Bagian 2

This summary is not available. Please click here to view the post.

Robby - Semua Karena Nafsu Birahi - Bagian 1

This summary is not available. Please click here to view the post.

Herman - Kisah dari Bukit Barisan Bagian 6 END

 

Persetubuhan bertiga dengan Cik Ida beberapa kali kami ulangi. Tapi bagiku Bi Marni tetap tak tergantikan. Aku sering beralasan sedang tak enak badan waktu Rizal mengajakku menggarap Cik Ida, padahal aku diam-diam menyelinap menemui Bi Marni. Dengan Cik Ida aku mendapat kepuasan seks, tapi dengan Bi Marni aku mendapat tak hanya kepuasan seks tapi juga perhatian dan kasih sayang. Sesuatu yang hilang sejak Bapak dan Ibu ke luar negeri 4 tahun yang lalu, demi membiayai pendidikan aku dan adikku hingga perguruan tinggi nanti.

Herman - Kisah dari Bukit Barisan Bagian 5

 

 

Seminggu kemudian aku berpapasan dengan Cik Ida di acara hajatan. "Enak ya Man bolos sekolah..?", kata Cik Ida sambil tersenyum. Aku balas senyum walau sebenarnya bingung dengan maksud pertanyaan Cik Ida. Pertanyaan yang sama diulanginya lagi ketika kami bertemu di jalan beberapa hari kemudian. Aku baru sadar maksudnya. Waduuhhh, habislah aku!. Pasti tempo hari Cik Ida melihat pakaianku berserakan di rumah Bi Marni. Apalagi di baju sekolah tertulis jelas namaku. Bi Marni pun ketika menemui Cik Ida waktu itu pasti tak sadar kalau dilehernya banyak bekas cupang. Sebagai wanita yang sudah berpengalaman tentu Cik Ida bisa menebak apa yang terjadi. *

Herman - Kisah dari Bukit Barisan 4

This summary is not available. Please click here to view the post.

Herman - Kisah dari Bukit Barisan Bagian 3


Sudah seminggu setelah kejadian di pondok tengah sawah itu berlalu. Aku merasa tidak karuan, disatu sisi ada rasa menyesal tapi disisi lain ada dorongan untuk kembali mengulanginya. Bahkan, aku sudah tidak berminat lagi mengintip Bi Marni mandi. Di sekolah pun aku sulit berkonsentrasi. Aku makin tersiksa setiap bertemu Bi Marni. Sikapnya biasa saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Aku penasaran, benarkah Bi Marni tidak ingin mengulanginya lagi? *

Hari sabtu itu aku pulang sekolah bersama Rizal berboncengan dimotornya. Ternyata Bi Marni baru selesai masak.Warungnya ditutup untuk sementara.

"Man, jangan pulang dulu. Makan disini saja ya..", kata Rizal.

"Iya Man, ini Bibi masak lumayan banyak. Ayo makan sama-sama...", Bi Marni ikut menawarkan. Masih berseragam sekolah kami lalu menuju meja makan.

Herman - Kisah dari Bukit Barisan Bagian 2

 

"Man, anterin Bibi nengok sawah ya, mau lihat apa sudah bisa dipanen belum. Si Rizal kakinya keseleo habis main bola", kata Bi Marni suatu hari. Setelah mengunci pintu dan menutup warung, tangannya mengulurkan kunci motor Rizal. Hari minggu siang itu Bi Marni memakai kebaya dan kain panjang sebatas lutut, rambut panjangnya digulung bertutup kain selendang. Wah, pucuk dicinta ini namanya. Setelah motor kuhidupkan, Bi Marni lalu naik dibelakang dengan posisi menyamping.

Jarak ke sawah sekitar 1,5 km melewati jalan tanah yang bergelombang. Ketika lewat jalan berlubang motor agak oleng, tangan kanan Bi Marni reflek melingkari pinggangku sehingga buah dadanya terasa begitu kenyal menempel di punggungku. Akibatnya aura mesum langsung merasuki otakku.

Herman - Kisah dari Bukit Barisan Bagian 1

 

 

Sore itu aku sedang berada di atas kereta api dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta, setelah tugas dari kantor selesai dilaksanakan. Ketika melewati daerah Padalarang, diluar jendela kereta terlihat hamparan sawah yang terjepit diantara kampung dan perbukitan. Aku jadi teringat kampung halamanku. Lamunanku membawa aku kembali ke kampungku....LIMA BELAS TAHUN YANG SILAM.... *

Bu Halimah Ibu Kos Bagian 5 END

 

Setelah 3 hari dia pun menghampiri saya ketika saya pulang dari kampus

“mas entar sore tak tunggu loh”

Iya yu”

Sekitar jam 4 sore dia sudah siap2 mau pulang.sekitar jam 5 aku sudah berada disana.

“yu “

Ehh mas tris masuk mas”

Maaf yu mas sarjo sudah berangkat narik kan”

Tenang mas dia kalau narik biasanya sampai pagi

Saya pun mendekatinya Kucium bibrnya, hangat, dia menerimanya. Kucium dia dengan lebih galak dan dia membalasnya, lalu tangannya merangkul pundakku.

Bu Halimah Ibu Kos Bagian 4

Seperti siang itu, karena hanya ada satu mata kuliah, aku pulang agak siang dari kampus. Aku langsung ke warung untuk makan siang dan bermaksud memberi kode pada ibu kostku. Tetapi ia tidak di sana.

“Ibu baru saja pulang, mungkin untuk istirahat,”kata Yu Narsih, pembantunya yang ada menunggu warung melayani pembeli.

Jarak antara warung dengan rumah memang dekat tak lebih dari 50 meter. Maka setelah menyantap makan siangku, aku langsung ngabur ke rumah. Dia tidak sedang tidur seperti yang kusangka. Ia sedang melipati pakaian yang telah diambilnya dari jemuran duduk di ruang tengah. Maka dasar sudah horny, kudekati ia dan kupeluk dari belakang.

“Kuliahnya bebas Tris,”katanya.

“Cuma satu mata kuliah kok,”jawabku.

Ia berkeringat, mungkin karena kesibukannya melayani pembeli sejak pagi. Baunya khas, bau wanita dewasa. Tetapi tidak mengurangi gairahku untuk memesrainya. Ia mulai menggelinjang ketika tanganku menyelusup ke balik dasternya dan mencari gundukan buah dadanya. Kuremas-remas susunya dan kupilin putingnya.

Aku jadi gemas karena ia tak bereaksi. Tetapi melanjutkan pekerjaanya memberesi pakaian-pakaian yang telah dicucinya. Maka sambil menciumi lehernya, tanganku terus merayap dan merayap sampai kutemukan vaginanya yang masih tertutup CD. Baru ketika hendak kutarik CD nya ia berontak.

“Kamu pengin Tris?,”

“Iya. Habis vaginanya enak sih,”kataku.

Bu Halimah Ibu Kos Bagian 3

Dan dengan lembut dia membersihkan air mani yang berleleran di penisku dan vaginanya dengan daster yang tadi dikenakannya.

“Sebentar aku bikin kopi dulu ya, biar kamu semangat lagi,”

Dia keluar dari kamarku sambil membawa dasternya yang telah kotor. Rupanya ia menyempatkan ke kamar mandi, karena kudengar ia menyiram dan membasuh tubuhnya. Cukup lama ia melakukan itu di kamar mandi. Baru ia kembali ke kamarku dengan membawa segelas besar kopi panas kesukaanku yang dibuatnya. Ia mengenakan kain panjang yang dililitkan sebatas dadanya. Namun satu-satunya pembungkus tubuhnya itu langsung dilepaskannya setelah menaruh gelas kopi dan mengunci kembali pintu kamarku.

“Kopinya saya minum dulu ya bu,”

“Oh ya, ya. Silahkan diminum nanti keburu dingin,”

Menyeruput beberapa tegukan kopi panas buatannya membuatku kembali bergairah.

Bu Halimah Ibu Kos Bagian 2

 

Di dalam kamar, kulepaskan seluruh pakaian yang kukenakan. Lalu tiduran telanjang diatas ranjang setelah sebelumnya menarik kain selimut untuk menutupi tubuh. Seperti itulah biasanya aku beronani sambil membayangkan keindahan tubuh dan menyetubuhi ibu kostku. Hanya, baru saja aku mulai mengelus burungku yang tegak berdiri tiba-tiba kudengar pintu kamarku yang tak sempat terkunci dibuka dan seseorang terlihat menerobos masuk ke dalam.

”Hayo, lagi ngocok yah,” suara Dia mengagetkanku.

Ternyata yang membuka pintu dan masuk kekamarku adalah ibu kostku.

“Ti,.. tidak,”jawabku dan secara reflek segera kutarik selimut untuk menutupi tubuhku.

“Jangan bohong Tris. Ibu tahu kok kamu sering mengintip ibu saat mandi atau dikamar. Juga tadi kamu melihati milik ibu saat tidur di sofa kan?”katanya lirih seperti berbisik.

 

Ditelanjangi sedemikian rupa aku jadi malu dan menjadi tegang. Takut kepada kemarahan Dia atas semua ulah yang tidak pantas kulakukan. Penisku yang tadi tegak menantang kini mengkerut, seiring dengan kehadiran wanita itu di kamarku dan oleh pernyataanya yang telah menelanjangiku. Aku membungkam tak dapat bisa bicara.

“Sebenarnya ibu nggak apa-apa kok, Tris. Malah, ee.. ibu bangga ada anak muda yang mengagumi bentuk tubuh ibu yang sudah tua begini. Kalau mau, sekarang kamu boleh melihat semuanya milik ibu dari dekat dan kamu boleh melakukan apa saja. Asal kamu bisa menjaga rahasia serapat-rapatnya,”ujarnya.

 

Bu Halimah Ibu Kos Bagian 1

This summary is not available. Please click here to view the post.