Seminggu kemudian aku berpapasan dengan Cik Ida di acara hajatan. "Enak ya Man bolos sekolah..?", kata Cik Ida sambil tersenyum. Aku balas senyum walau sebenarnya bingung dengan maksud pertanyaan Cik Ida. Pertanyaan yang sama diulanginya lagi ketika kami bertemu di jalan beberapa hari kemudian. Aku baru sadar maksudnya. Waduuhhh, habislah aku!. Pasti tempo hari Cik Ida melihat pakaianku berserakan di rumah Bi Marni. Apalagi di baju sekolah tertulis jelas namaku. Bi Marni pun ketika menemui Cik Ida waktu itu pasti tak sadar kalau dilehernya banyak bekas cupang. Sebagai wanita yang sudah berpengalaman tentu Cik Ida bisa menebak apa yang terjadi. *
Aku tak boleh membiarkan rahasia petualanganku sampai tersebar sekampung. Aku akan menemui Cik Ida .......
Kubulatkan tekad untuk secepatnya bertemu Cik Ida, sebelum semuanya terlambat. Aku tak bisa *membayangkan apa jadinya bila cerita hubunganku dengan Bi Marni tersebar ke orang sekampung. Bapak dan Ibu pasti sangat malu dan kecewa. Rizal apalagi, pasti dia akan membacok leherku.
Aku putuskan untuk menemui Cik Ida *setelah pulang sekolah. Pak Cik Harun biasanya sedang mengawasi orang bekerja di sawahnya dan baru pulang menjelang senja. *Aku mengetuk pintunya, "Ciiik...Cik Ida..!" tapi tak ada sahutan. Aku melangkah meninggalkan rumah Cik Ida. Tapi kemudian aku berubah pikiran. Kulihat banyak pakaian yang masih tergantung di jemuran. Mungkin Cik Ida lagi di belakang rumah. Aku berbalik menuju halaman belakang lewat samping rumahnya. Ketika berada persis disamping kamarnya langkahku terhenti ketika aku mendengar suara rintihan Cik Ida, juga derit ranjang. Tirai jendela tertutup rapat. Cik Ida sedang digarap Pak Cik Harun rupanya. Pantas saja mereka tak menyahut panggilanku. Walaupun sudah 5 tahun menikah, pasangan ini belum punya anak. Dari istri pertamanya Pak Cik punya dua anak perempuan yang semuanya sudah menikah dan tinggal terpisah.
Aku penasaran seperti apa gaya bercinta orang seumur Pak Cik Harun. Apakah sama tradisionalnya seperti cerita Bi Marni waktu bersetubuh dengan almarhum Wak Amir? Dengan hati-hati aku menyandarkan tangga yang biasa digunakan Pak Cik untuk memetik buah ke dinding kamar. Aku mengintip lewat lubang ventilasi, kulihat Cik Ida sedang duduk menindih Pak Cik Harun. Dari posisiku mengintip yang terlihat hanya kakinya saja, sedangkan wajahnya terhalang oleh punggung Cik Ida. Pinggul Cik Ida tak semontok Bi Marni, lebih langsing dan kencang. Lekuk tubuhnya seperti gitar. Melihat pemandangan seperti itu kontolku langsung tegang setegang-tegangnya.
Cik Ida tampak meliuk-liukkan pinggulnya seperti penyanyi dangdut dengan goyangan sensual. Ternyata Cik Ida memang jauh lebih mahir dari Bi Marni dalam urusan bersetubuh. Pinggul Cik Ida tak hanya bergoyang maju mundur, tapi juga melintir seperti ngebor. "Aaaahhh....!", Cik Ida iba-tiba mengerang dan ambruk diatas dada pasangannya. Yang pria tampaknya belum mencapai klimaks karena kulihat pinggulnya masih bergerak naik turun menyodok memek Cik Ida. Tubuh Cik Ida yang tertelungkup lemas bergoyang setiap kali memeknya disodok, pantatnya seperti memantul. Wah, kuat juga stamina Pak Cik Harun padahal umurnya sudah mendekati 60 tahun.
Cik Ida tiba-tiba bangkit meraih celana dalamnya lalu mengelap memeknya. Selesai juga pertarungan birahi mereka, pikirku. Aku hendak melangkah turun, tapi kulihat Cik Ida malah pasang posisi menungging. Wajahnya menghadap kearahku sedangkan bokongnya ke arah pasangannya. Teteknya yang berukuran sedang dengan puting yang mungil, tergantung ranum. Luar biasa sekali stamina Pak Cik, batinku. Pasti dia minum obat kuat. Ketika bangkit dari kasur hendak menyodok Cik Ida dari belakang, baru lah wajahnya terlihat jelas. Ternyata laki-laki itu bukan Pak Cik Harun, tapi...si RIZAL..! Yaa, Rizal anak Bi Marni, kawan sepermainanku. Setaaann..! Dasar..Tempoyak..! Pantas saja sikapnya belakangan ini agak berubah.
Rizal berlutut di belakang Cik Ida sambil mengarahkan kontolnya ke memeknya lalu mendorong pinggulnya kedepan. Sodokannya berirama, kadang cepat kadang melambat. Tetek Cik Ida yang ranum bergoyang setiap kali selangkangan Rizal membentur bokongnya. Rizal menghentikan sodokannya, Cik Ida balas menggoyang pantatnya, rambutnya acak-acakan, mulutnya tak berhenti bergumam. Rizal mendesis sambil memejamkan matanya. Cik Ida menarik tangan Rizal yang sedang menumpu di bokongnya, mengarahkan untuk meremas teteknya. Rizal mencondongkan tubuhnya kedepan, sambil meremas tetek Cik Ida mulutnya menjilat punggung Cik Ida. Sementara itu, dibawahnya Cik Ida terus menggoyang pinggulnya.
"Ciiikk...., Zal mau keluaarr..", Rizal mendesis lirih. Cik Ida buru-buru menarik tubuhnya hingga kontol Rizal terlepas dari memeknya. Dia lalu bersimpuh menghadap Rizal, tangannya langsung menyambar kontol Rizal yang berdiri mengacung dan langsung dimasukkan ke mulutnya.
"Aaargghh...Ciiiikk..!", Rizal mengerang sambil mencengkeram belakang kepala Cik Ida. Tubuh Rizal mengejang hebat, kepalanya menengadah. Beberapa saat kemudian Cik Ida melepas mulutnya dari kontol Rizal, mulutnya tampak berlepotan lendir.
Mereka lalu tidur berpelukan dalam posisi menyamping. Rizal memeluk Cik Ida dari belakang.
"Tambah mahir aja kau Zal. Cik Ida sampai kewalahan", kata Cik Ida lemas.
"Kan Cik Ida yang ngajari", balas Rizal sambil meremas tetek Cik Ida. Aku mengendap meninggalkan rumah Cik Ida. Malamnya di kamar, aku membayangkan alangkah nikmatnya kalau bisa bersetubuh seperti Rizal dan Cik Ida. *
Karena belum sempat bertemu, besok sorenya aku datang lagi ke rumah Cik Ida. Tapi begitu hendak sampai di halaman rumahnya, kulihat ada Pak Cik Harun sedang bersantai di teras. Pak Cik asik menghisap pipa rokoknya sementara Cik Ida menyapu halaman. Hampir saja aku berbalik arah, hingga Pak Cik memanggilku. "Maann..! mau kemana kau?", teriak Pak Cik dari teras, "Macam mana kabar orang tuamu di luar negeri?".
"Mereka sehat-sehat aja Pak Cik, minggu kemarin juga ada kirimannya", aku melangkah *ke arah teras lalu berhenti dekat Cik Ida menyapu. Cik Ida hanya memandangku sekilas dan terus saja menyapu.
"Baik-baik kau gunakan kiriman orangtuamu ya, jangan foya-foya", Pak Cik menasehatiku.
Dalam posisi yang cukup dekat dengan Cik Ida aku lemparkan senyum sinis sambil bergumam, "Yang muda-muda memang bikin kewalahan, ya kan Cik?". Cik Ida berhenti menyapu , ekspresi wajahnya terlihat tegang. Sekilas dia melirik ke arah Pak Cik Harun, kemudian membalikkan badannya buru-buru masuk rumah. Aku pamit ke Pak Cik dan pulang dengan senyum kemenangan... *
Saat jam istirahat sekolah Rizal menghampiri aku yang sedang sendirian menyandar di tiang selasar. Suaranya nyaris seperti berbisik, "Man, jangan bilang ke Ibu ya", kata Rizal sambil merangkul bahuku. Belum sempat kujawab, dia mencecarku lagi. "Jangan pura-pura kau Man. Aku tahu kau ngintip aku sama Cik Ida tempo hari kan?", desak Rizal. Aku terpojok, bagaimana Rizal bisa tahu? "Aku dengar suara kau waktu mengetuk pintu Cik Ida, waktu pulang kutengok ada tangga tersandar disamping jendela kamarnya. Jadi aku yakin itu pasti kau, ya kan Man?", kata Rizal menginterogasiku, akhirnya dengan wajah memelas dia memohon, "Tolonglah Man, jangan cerita sama siapa-siapa". Aku mengangguk sambil tersenyum. Senyum yang sama seperti kemarin ketika aku berlalu dari rumah Cik Ida. *
Hari-hari yang menyenangkan terhampar di depan mata. Segudang rencana bermunculan di benakku.....
Dari sikap Rizal terhadapku, aku yakin dia belum tahu hubungan gelapku dengan Bi Marni. Selama ini memang aku kawan yang setia dalam keadaan apapun. Ya tentu saja kalau hubunganku dengan Bi Marni tak masuk hitungan. Tapi untuk memastikan situasi benar-benar aman, aku tidak menemui Bi Marni dulu untuk sementara. Sampai pada suatu hari, waktu jam istirahat sekolah, Rizal menghampiriku dan menyampaikan pesan, "Man, Cik Ida minta kau datang kerumahnya nanti malam. Penting!" "Ada urusan apa Zal?", aku penasaran. Rizal cuma mengangkat bahu sambil pergi. Dalam hati aku mereka-reka apa maksud Cik Ida. *
Malamnya sekitar jam 8 aku kerumah Cik Ida. Sampai di halamannya aku mendadak ragu. Jangan-jangan Cik Ida mau menjebakku. Bagaimana kalau di dalam Pak Cik bersama orang-orang kampung sudah menunggu dan menyergap aku? Ah, rasanya tak mungkin. Aku bisa buka mulut soal hubungan Cik Ida dan Rizal.
Kutepis keraguanku dan mulai mengetuk pintu. Cik Ida muncul membuka pintu dengan senyum menghias bibirnya. Malam itu dia memakai pakaian tidur model kimono selutut. Aroma rambutnya yang tergerai merasuk hidungku. "Ayo masuk Man. Bang Harun kebetulan sedang kerumah anaknya, kangen sama cucunya", Cik Ida menyuruhku duduk. "Cik Ida ndak ikut?", tanyaku sambil duduk. "Ah malas. Dari dulu anak Bang Harun kan tak suka sama Cik", ketus Cik Ida sambil duduk disebelahku. Cik Ida lalu bercerita waktu kembali dari luar negeri umurnya sudah 27 tahun. Usia yang dianggap sudah perawan tua untuk ukuran kampung kami. Ketika kemudian Pak Cik Harun yang sudah menduda melamarnya, dia langsung menerima walaupun anak-anak Pak Cik menentang. Hingga lebih 5 tahun pernikahan, Cik Ida belum juga dapat momongan. Cik Ida terus bercerita tapi tak sekali pun menyinggung hubunganku dengan Bi Marni. Cik Ida duduk dengan menyilangkan lututnya sehingga pahanya yang putih mulus tersingkap dari celah kimono. Lama-lama Cik Ida semakin merapat hingga bahu kami nyaris bersentuhan.
Cik Ida bicara terus terang kalau selama pernikahannya dengan Pak Cik Harun dia tidak pernah mendapatkan kepuasan. Tiap bersetubuh dia hanya pura-pura klimaks hanya untuk menyenangkan suaminya. Sambil bicara tangan Cik Ida mengelus pahaku. Kontolku perlahan mulai mengeras. Aku juga tak mau diam saja, ketelusupkan tanganku ke sela paha Cik Ida. Tanganku menyentuh gundukan daging *dengan bulu pendek dan kasar bekas dicukur. Wah Cik Ida tidak pakai celana dalam. Kami lalu berpelukan dengan bibir saling melumat. Cik Ida melepas kimononya hingga tinggal mengenakan pakaian dalam transparan sebatas paha dengan tali kecil tergantung di bahunya. Puting susunya menonjol dari balik pakaian dalamnya.
Cik Ida menarik tanganku kedalam kamar. Aku hanya mengikuti saja seperti kerbau dicucuk hidungnya. Kontolku yang sudah keras terasa sakit akibat terperangkap dalam celana. Tapi begitu sampai didalam kamar aku seperti tersengat listrik saking terkejutnya. Deeggg...!. Ternyata si Rizal sedang berbaring santai di ranjang Cik Ida..! Dia cuma memakai singlet dan celana pendek, mulutnya cengengesan tanpa beban. Kontolku yang tadinya sudah mengeras langsung menciut seperti kerupuk kulit tersiram kuah nasi kapau.
Aku mengakui Rizal adalah partnerku dalam kenakalan, mencuri buah-buahan milik tetangga, mengempesi ban sepeda guru SD kami dulu, dan sederet kenakalan yang lain. Tapi bersama menyetubuhi wanita dalam satu kamar? Sesuatu yang sama sekali tidak terlintas dalam pikiranku. Aku hanya berdiri mematung. Pintu kamar sudah dikunci Cik Ida.
"Sini Man..! Jangan cuma bengong aja", kata Rizal sambil bangkit dari Ranjang. Dia langsung memeluk Cik Ida, bibir mereka saling melumat. Tangan Rizal melepas tali pakaian dalam Cik Ida hingga melorot jatuh ke lantai. Terpampanglah tubuh Cik Ida tanpa tertutup sehelai benangpun. Pinggangnya ramping tak berlemak, perutnya nyaris rata dan tanpa kerutan. Melihat adegan panas didepan mataku, kontolku mulai mengeras lagi. Cik Ida melepaskan pelukan Rizal dan membantu aku meloloskan semua pakaianku, lalu mendorongku berbaring di ranjang. Cik Ida ikut naik ke ranjang, menungging ke selangkanganku. Mulutnya langsung menyambar kontolku dan melumatnya dengan penuh nafsu.
Rizal yang juga sudah telanjang tidak tinggal diam, jarinya mencolok memek Cik Ida. Kemudian Rizal berlutut di belakang pantat Cik Ida. Dengan sekali dorongan, kontolnya sudah melesak kedalam liang memek Cik Ida. Sekarang posisinya aku terbaring di ranjang, Cik Ida menungging menghisap kontolku, dan Rizal berlutut menyodok memek Cik Ida dari belakang. "Glekkk..glek..glekk", Cik Ida bergumam tak jelas karena mulutnya tersumbat oleh kontolku. Tetek Cik Ida berayun-ayun mengikuti sodokan Rizal. Tak berapa lama aku merasa kontolku berdenyut geli. Sekuat tenaga aku berusaha menahan, tapi jilatan Cik Ida di ujung kontolku membuat pertahananku jebol.
"Ciiikk..., sssshhh..aahh..!", aku mendesis sambil meremas rambut Cik Ida. Sedotan Cik Ida semakin buas, lalu...crott..crott..! Aku memuntahkan spermaku kedalam mulut Cik Ida, tubuhku mengejang beberapa saat. Cik Ida menyedot spermaku hingga habis, kontolku ngilu bukan main.
"Payah kau Beruk..! Gitu aja dah keluar hahaha....", Rizal terbahak mengejekku. Aku cuma nyengir sambil bersandar ke sandaran ranjang.
Rizal mencabut kontolnya lalu ikut bersandar disebelahku. Cik Ida langsung berjongkok di selangkangan Rizal. Ketika kontol Rizal sudah melesak kedalam memeknya, Cik Ida menggoyang pinggulnya. Tangan Cik Ida bertumpu pada sandaran ranjang, teteknya yang bergoyang disergap Rizal. Disedotnya tetek Cik ida bergantian. Krekkk..krekk...ranjang berderit karena goyangan mereka berdua. Cukup lama Cik Ida bergoyang menunggangi Rizal. "Aaauuuhhhh...Konnntoolll!", Cik Ida memekik panjang, lalu terkapar dalam pelukan Rizal.
Setelah nafas Cik Ida kembali teratur, mereka lalu bertukar posisi, Cik Ida menelentang disampingku dan Rizal menggenjotnya diatas. Sambil menikmati genjotan Rizal, tangan Cik Ida meremas-remas kontolku. Kontolku yang terkulai mulai bereaksi mengeras. Aku meremas tetek Cik Ida dan memilin putingnya. Sementara itu genjotan Rizal semakin cepat, tampaknya sebentar lagi dia akan memuntahkan lahar panasnya. Tak berselang lama, "Aaaarrrgghhh....!", Rizal mengerang sambil menekan pinggulnya kuat-kuat ke selangkangan Cik Ida. Setelah nafasnya kembali teratur, Rizal lalu mencabut kontolnya, "Ayo lanjutkan Man", katanya sambil menyingkirkan tubuhnya dari sela paha Cik Ida.
Dengan pakaian dalamnya, Cik Ida mengelap sperma Rizal yang meleleh dari memeknya. Kontolku yang sudah tegang kulesakkan ke lobang memek Cik Ida yang masih terbaring mengangkang. Aku menggenjot Cik Ida dengan tempo sedang, dibawahku Cik Ida memberi perlawanan dengan menggoyang pinggulnya. Kuangkat kaki Cik Ida menumpu di bahuku, memeknya yang merekah terpampang jelas. Kupercepat sodokanku, Cik Ida mendesah tak karuan. Giliran mulut Rizal yang menyergap teteknya.
"Uhhh...Maaan, sodok yang kencanggghh", desah Cik Ida sambil mencengkeram pantatku. Sodokanku semakin brutal, "Mmhhaaah...! Konntoooll..!", Cik Ida mengejang, memeknya berkedut-kedut memijit kontolku. Kuhentikan gerakanku membiarkan Cik Ida menikmati puncak kepuasannya.
Setelah tenaganya pulih, Cik Ida menyuruhku telentang lalu dia menduduki aku dengan posisi membelakangiku. Kontolku sekali lagi dengan mudah menembus memeknya yang sudah sangat becek. Cik Ida menggoyang pinggulnya mengulek kontolku, tangannya bertumpu di pahaku. Rizal yang kembali terangsang lalu berdiri dan menyodokkan kontolnya ke mulut Cik Ida. Cukup lama kami memacu birahi hingga aku kembali merasa kontolku akan muntah, dan crottt....crottt. "Aaarrgghhhh....!", aku mengerang sambil meremas pantat Cik Ida. Sementara itu Rizal semakin mempercepat sodokan kontolnya di mulut Cik Ida dan mencapai klimaks tak lama berselang.
Kami bertiga terbaring lemas, Cik Ida berada ditengah diantara aku dan Rizal. Kami bercerita macam-macam termasuk kenakalan masa kecil kami dulu. Kami paling senang berdiri dekat panggung kalau Cik Ida sedang tampil menyanyi dangdut. Apalagi tujuan kami kalau bukan ingin mengintip pahanya.
"Jadi siapa diantara kalian yang dulu nyolong BH Cik Ida di jemuran?", tanya Cik Ida.
"Ihhh Cik, itu kan masa lalu. Yang penting sekarang kan kami dah nikmati isinya", celutuk Rizal. Kami terbahak.
"Cik Ida dulu kerja apa di luar negeri?", tanyaku penasaran. Yang aku tahu wanita yang kerja di luar negeri kalau bukan pembantu, paling jadi petugas kebersihan.
"Uuhh...Cik dulu kerja enak Man. Cik nemani tamu nyanyi sambil minum-minum", kata Cik Ida. Aku cuma manggut-manggut walau tak begitu paham pekerjaan apa yang dimaksud. Bertahun kemudian barulah aku mengerti profesi seperti apa yang dijalani Cik Ida. Tak terasa sudah lebih satu jam kami bercerita. Persetubuhan yang liar kami kembali terjadi hingga dinihari. Suara kokok ayam dan jam weker Cik Ida menyadarkan kami yang tertidur pulas. Aku dan Rizal lalu mengendap-endap pulang ke rumah kami masing-masing.


No comments:
Post a Comment