Persetubuhan bertiga dengan Cik Ida beberapa kali kami ulangi. Tapi bagiku Bi Marni tetap tak tergantikan. Aku sering beralasan sedang tak enak badan waktu Rizal mengajakku menggarap Cik Ida, padahal aku diam-diam menyelinap menemui Bi Marni. Dengan Cik Ida aku mendapat kepuasan seks, tapi dengan Bi Marni aku mendapat tak hanya kepuasan seks tapi juga perhatian dan kasih sayang. Sesuatu yang hilang sejak Bapak dan Ibu ke luar negeri 4 tahun yang lalu, demi membiayai pendidikan aku dan adikku hingga perguruan tinggi nanti.
Priiiittttt......! Suara peluit kereta terdengar nyaring ketika memasuki stasiun Cikini. Sebentar lagi kereta akan sampai di stasiun Gambir. Kusudahi lamunanku tentang masa-masa indah di kampung halamanku. Diatas taksi biru yang mengantarku pulang dari Gambir menuju apartemenku di kawasan Sudirman, kupandangi langit Jakarta yang berawan tebal. Malam itu hujan lebat mengguyur Jakarta, aku terbaring pulas di ranjang. Besok kembali aku akan mengarungi kerasnya Jakarta. Selamat Malam ............


No comments:
Post a Comment