Herman - Kisah dari Bukit Barisan Bagian 3


Sudah seminggu setelah kejadian di pondok tengah sawah itu berlalu. Aku merasa tidak karuan, disatu sisi ada rasa menyesal tapi disisi lain ada dorongan untuk kembali mengulanginya. Bahkan, aku sudah tidak berminat lagi mengintip Bi Marni mandi. Di sekolah pun aku sulit berkonsentrasi. Aku makin tersiksa setiap bertemu Bi Marni. Sikapnya biasa saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Aku penasaran, benarkah Bi Marni tidak ingin mengulanginya lagi? *

Hari sabtu itu aku pulang sekolah bersama Rizal berboncengan dimotornya. Ternyata Bi Marni baru selesai masak.Warungnya ditutup untuk sementara.

"Man, jangan pulang dulu. Makan disini saja ya..", kata Rizal.

"Iya Man, ini Bibi masak lumayan banyak. Ayo makan sama-sama...", Bi Marni ikut menawarkan. Masih berseragam sekolah kami lalu menuju meja makan.

Siang itu Bi Marni memakai daster selutut tanpa lengan, belahan lehernya rendah berbentuk huruf V. Rambutnya disanggul sehingga bagian kuduk dan anak rambutnya terlihat jelas. Ahh..leher itu. Leher yang kusedot dengan rakus di pondok waktu itu. Tapi yang paling membuat aku tertegun adalah puting susunya tercetak jelas didasternya. Glekkk...Bi Marni tidak pakai BH. *

Di meja makan Rizal dan Bi Marni duduk bersebelahan. Aku duduk berhadapan dengan Bi Marni. Sambil makan kami ngobrol ngalor ngidul, Bi Marni menanyakan soal sekolah kami. Rizal lah yang banyak bercerita.

"Nanti malam jadi kan Man kita nonton dangdutan?", tanya Rizal.

Aku mengangguk, mulutku masih penuh nasi. Malam itu ada hajatan di kampung tetangga berjarak sekitar 2 km dari kampungku.

"Awas, pulangnya jangan terlalu malam lho..!", Bi Marni menimpali.

"Ahh, Ibu....ini kan malam minggu, lagian kami kan laki-laki..hehehe..", Rizal terkekeh. Lalu kami semua diam meneruskan makan.

Pada saat aku berselonjor, kakiku menyentuh kaki Bi Marni. Sengaja kubiarkan sebentar, ternyata Bi Marni tidak berusaha menarik kakinya mundur dan terus saja makan. Lalu jempol kakiku kugesek-gesek betisnya hingga naik ke lututnya. Bi Marni menghentikan makan, matanya mendelik menatapku. Aku pura-pura menunduk sambil terus makan. Aku merendahkan posisi dudukku sehingga jangkauan kakiku jadi lebih panjang. Aksi nakalku tertolong oleh model taplak meja makan yang terjuntai sampai ke kursi. Jempol kakiku bergerak semakin jauh hingga masuk kecelah paha Bi Marni. Saat itu Bi Marni langsung berhenti makan, tangannya mengambil segelas air, wajahnya menunduk. Aku terus saja mengesek pahanya, beberapa centimeter lagi kakiku akan menyentuh gundukan daging di selakangannya.

Pletakkk.....! Sepotong tulang ayam mendarat di keningku. Aku kaget bukan main, kakiku langsung kutarik mundur.

"Woiii..Beruk..! Lagi melamun jorok kau ya.? Pasti kau mengkhayal Kak Iyet kan..?!", seru Rizal terbahak sampai nasi menyembur dari mulutnya.

Aku cuma senyum kecut. Dalam hatiku...BUKAN KAWAN, BUKAN PENYANYI DANGDUT ITU...TAPI IBUMU. *

Selesai makan Rizal langsung masuk kamar berganti pakaian. Bi Marni beranjak kedapur membawa piring kotor. Aku lalu diam-diam menyusul Bi Marni ke dapur. Bi Marni sedang menghadap ke meja dapur. Kupeluk Bi Marni dari belakang. Tanganku kulingkarkan ke pinggangnya, selangkanganku menekan bokongnya. Kontolku koposisikan tepat dibelahan pantatnya. Bibirku kukecupkan ke lehernya. Bi Marni tersentak kaget, lalu menoleh dan membentakku dengan suara perlahan.

"Gila kau Man, bagaimana kalau kepergok si Rizal?! Bisa heboh orang sekampung..!", cecar Bi Marni sambil meronta. Aku bertambah erat memeluknya. Aku hembuskan nafasku dekat kuduknya sehingga anak rambutnya ikut tertiup.

"Maman kangen sama Bibi. Setiap hari Maman selalu ingat Bibi..", aku berbisik. "Jangan macam-macam kau Man..! Ingat, aku ini bibimu", jawab Bi Marni.

"Tapi Maman benar-benar sayang sama Bi Marni", aku tetap bersikeras.

"Bibi juga sayang Man, sama seperti Bibi menyayangi si Rizal. Tapi bukan hubungan seperti ini yang Bibi maksud", kata Bi Marni. Aku tetap tidak mau menerima alasan Bi Marni. Aku yakin dia menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.

"Lalu yang terjadi di sawah tempo hari itu apa Bi? Kenapa Bibi tidak menolak?", protesku. Bi Marni terdiam. Dia tidak lagi meronta.

"Waktu itu Bibi ...", Bi Marni tidak meneruskan kalimatnya. Dia hanya mengela nafas panjang sambil memutar wajahnya menghadap kedepan ke dinding.

 

Tanpa menunggu Bi Marni meneruskan ucapannya, kedua tanganku langsung kutangkupkan ke susunya, kuremas dari luar daster. Putingnya kugesek-gesek dengan jari jempolku. Lehernya kembali kusosor, kujilati belakang telinganya. "Ssshhh...hmmmhh.." desah Bi Marni tertahan. Kepalanya disandarkan ke bahuku. Gulungan rambutnya terlepas sehingga rambut panjangnya terurai. Kutelusupkan tangan kananku lewat leher daster Bi Marni, kupilin puting susunya. Satu tali dasternya kuturunkan hingga sikut. Tangan kiriku masuk merogoh selangkangannya. celana dalam Bi Marni terasa lengket, aku korek-korek tonjolan sebesar jagung di belahan memeknya.

"Hmmmpphh...", Bi Marni mengatup rapat bibirnya. Kontolku kugesek-gesek ke bokongnya. Dengus nafas kami saling berpacu. *

"Maann..! Nanti malam jadi kan..?", teriak Rizal dari pintu kamarnya.

Aku dan Bi Marni tersentak kaget. Cepat-cepat kulepaskan pelukanku. Bi Marni buru-buru merapikan daster dan menggulung rambutnya. Aku bergegas keluar dari dapur, memasukkan satu tangan kedalam saku celana sehingga kontolku yang masih tegang tidak begitu terlihat.

 

"Ya pasti jadi lah Zal", jawabku ketika sudah di depan kamar Rizal. Didalam kepalaku sudah ada rencana kotor yang mau aku jalankan.

"Nanti jam 8 ya. Kita ngumpul disini dulu. Kawan yang lain juga dah tahu", kata Rizal. Aku mengangguk lalu berjalan pulang.

Sampai di rumah, aku mengunci pintu kamar dan menuntaskan hasratku yang tertunda di dapur Bi Marni tadi. *Akhirnya.....crott...crott...!

Malamnya, sekitar jam 8 kami sudah berkumpul di warung Rizal. Aku, Rizal, ditambah empat orang kawan yang lain. Ada 3 sepeda motor saat itu. Setengah jam kemudian kawan-kawan bersiap berangkat, tapi aku masih tetap duduk sambil menekan perutku. Wajahku meringis seperti menahan sakit. "Kalian berangkat aja duluan. Perutku sakit sekali nih. Nanti kalau sudah baikan aku susul..", kataku dengan akting meyakinkan. Aku segera bergegas pulang, tapi baru melangkah sekitar 30 meter aku langsung bersembunyi di balik rimbunan pohon pisang.

Setelah yakin Rizal dan yang lain sudah benar-benar pergi, aku keluar dari persembunyian. *Kuawasi keadaan disekitar. Sepi, hanya suara jangkrik saling bersahutan. Kuperkirakan waktu itu sudah hampir jam 10. Suara musik dangdut terdengar sayup-sayup dari kampung sebelah.

Aku berjalan cepat ke rumah Bi Marni. Tok...tok..! *pintu depan kuketuk. Tidak ada sahutan. Tok...tok..! Kuketuk lebih keras. Lalu tirai jendela terbuka sedikit. Sekilas Bi Marni mengintip. Ckleekk..! suara kunci pintu diputar, begitu daun pintu terbuka aku langsung menerobos masuk. *Pintu kututup dan aku kunci lagi.

"Lho bukannya kau pergi sama si Rizal tadi?", tanya Bi Marni sambil berjalan ke ruang tengah. Aku menyusul lalu duduk di kursi tepat disebelah Bi Marni. Di TV sedang ditayangkan acara musik dangdut.

Malam itu Bi Marni hanya mengenakan kain panjang sebatas dada. Bahunya terbuka dan tidak kelihatan ada tali BH. Rambutnya dibiarkan tergerai hingga ke punggung. Tanpa membuang waktu tanganku merangkul bahunya. Telapak tanganku kutangkupkan menggenggam bongkahan teteknya. Kedua daging kenyal itu kuremas, putingnya kupilin. Nafas Bi Marni mulai tersengal. Kucoba mengecup bibirnya, tapi Bi Marni memalingkan wajahnya sehingga bibirku malah mendarat dilehernya. Kulumat dengan rakus lehernya hingga turun sampai batas kain panjang diatas dadanya. Bi Marni bersandar pasrah di kursi. Kulepaskan lilitan kain hingga melorot ke pinggangnya. Setengah badannya terbuka. Kedua teteknya seakan hendak meloncat saking montoknya.

Aku langsung berdiri sambil menarik tangan Bi Marni menuju kamarnya. Ketika ikut berdiri kain Bi Marni melorot jatuh ke lantai hingga tinggal celana dalamnya saja yang masih melekat. Sampai di kamar Bi Marni kududukkan di tepi ranjang. Pakaianku kulepaskan semua. Telanjang bulat. Mata Bi Marni menatap batang kontolku yang tegak mengacung. Kutarik tubuh Bi Marni telentang di ranjang, aku langsung menindihnya. Teteknya kulumat dan kusedot dengan liar. Kontolku kugesek-gesek ke belahan memeknya yang masih tertutup kain segitiga itu. Tangan Bi Marni meremas rambutku. "Ahhh...hoohhhh....", suara desahan Bi Marni semakin membangkitkan gairahku.

Aku kemudian bangkit bersimpuh di sela pahanya. Tanganku menarik penutup terakhir dari badannya, Bi Marni ikut mengangkat pantatnya. Kuraih satu tangan Bi Marni dan kuletakkan di batang kontolku. Aku mau Bi Marni menuntun kontolku sampai pintu masuk memeknya. Begitu ujung kontolku menyentuh mulut memeknya, langsung kutekan perlahan. Blessspp...!

"Uhhff...!", kami mendesah hampir bersamaan. Memek Bi Marni seperti berdenyut memijit kontolku. Kurebahkan tubuhku menindih Bi Marni. Tanganku mencengkeram pergelangan tangannya yang terangkat diatas kepalanya. Dadaku menghimpit tetek Bi Marni, puting susunya terasa mengganjal.

Aku mulai memaju mundurkan pinggulku. Gesekan antara ujung kontolku dengan liang memek Bi Marni mengirimkan sinyal kenikmatan ke seluruh syarafku. Kukecup bibir Bi Marni. Kali ini dia tidak menolak. Kulumat bibirnya sambil terus menyodok memeknya. "Hmmmppp...hmmpp..!, desahan Bi Marni terhalang bekapan mulutku.

Kali ini aku bisa bertahan lebih lama daripada persetubuhan kami di sawah tempo hari. Mungkin karena aku sudah ngocok tadi siang. Hingga pada akhirnya kontolku mulai terasa geli. Kulepas cengkeramanku dari tangan Bi Marni, tubuhku bertumpu pada telapak tanganku. Kupercepat sodokan kontolku. Krekk..krekk..krekk...ranjang besi itu berderit mengikuti gerakan tubuh kami. Tetek Bi Marni berguncang-guncang, tangannya mencengkeram bantal, kakinya dilingkarkan menindih betisku. Aku merasa sebentar lagi ada yang hendak meledak dari dalam tubuhku. Kutusuk dalam-dalam memek Bi Marni...lalu crott...crott..crott..!

Aku ambruk diatas tubuh Bi Marni. Tangannya mengelus punggungku. Kucabut kontolku lalu berbaring disamping Bi Marni. Kami hanya terdiam memandang loteng kamar. Beberapa menit kemudian aku buka suara.

"Bi, maafkan Maman ya belum bisa bikin Bibi puas".

"Sudahlah, yang penting Maman senang. Memangnya Bibi harus cam mana?", balas Bi Marni.

"Selama ini kalau sama Wak Amir bagaimana Bi?", aku menukas. Aku memiringkan tubuhku menghadap Bi Marni. Tanganku memeluk dadanya, sebelah kakiku kutopangkan ke tubuhnya. Kutatap matanya dalam-dalam.

Setelah lama terdiam Bi Marni menjawab. " Sebagai istri Bibi wajib melayani suami. Uwakmu kalau main maunya cepat selesai...tapi bagi Bibi asal Uwakmu puas Bibi ikhlas", kata Bi Marni sambil menerawang.

Aku tahu Bi Marni dan Wak Amir menikah karena dijodohkan. Bi Marni baru menginjak usia 15 tahun sedangkan Wak Amir sekitar 17 tahun, bahkan sebelum akad nikah pun mereka tidak saling kenal. Kami terus ngobrol berbagi cerita, sambil senyum malu Bi Marni mengakui kalau gaya bercintanya dengan Wak Amir tak pernah berubah, dia hanya diam terlentang lalu Wak Amir menggenjotnya cepat-cepat lalu muncrat, sudah ....begitu seterusnya.

"Lalu kenapa Bibi tak ikut bergoyang, atau mendesah keenakan, misalnya..?", tanyaku penasaran.

"ihhh...! Bisa-bisa Bibi dibilang perempuan gatal oleh Uwakmu", Bi Marni mencibirkan mulutnya. Aku paham perempuan segenerasi Bi Marni diajari hanya sebagai pemuas suami, bukan sebagai partner yang setara.

"Bibi mau ndak sambil nungging Maman sodok dari belakang..?", aku coba pancing.

"Hahh..!? Macam anjing kawin gitu..?, suara Bi Marni agak meninggi. "Ada-ada saja kau ini". Aku hanya terkekeh.

Jam dinding di ruang tengah berdentang 12 kali. "Mendingan kau pulang sekarang Man. Sebentar lagi Rizal pulang", Bi Marni berusaha bangkit dari ranjang. Namun kutahan dengan merangkulnya.

"Sebentar Bi, yang ini belum mau pulang", kutarik tangannya menggenggam kontol. Kutuntun tangannya *mengocok kontolku hingga mulai mengeras.

"ihhh..., sudah keras lagi? Dasar...! Bi Marni tersenyum menggoda. Langsung saja kusergap mulutnya, kulumat bibirnya. Bi Marni membalas lumatanku hingga ludah kami saling berlepotan. Tentu saja teteknya tidak luput dari remasan tanganku.

Aku kemudian mengambil posisi hendak menindihnya. Bi Marni membuka pahanya, tangannya meraih kontolku dan mengarahkannya ke lubang memeknya. Kudorong maju pinggulku hingga kontolku amblas sampai ke pangkalnya. Aku bertumpu pada sikutku. Bibir Bi Marni kusumpal dengan mulutku. Tangan Bi Marni mencengkeram pantatku, pahanya dilingkarkan ke pinggulku. "Plakk...! Plakkk..!" suara selangkangan kami beradu. Ranjang besi itu berderit. Suara-suara beraroma mesum memenuhi kamar Bi Marni.

Aku berganti posisi dengan duduk bersimpuh disela paha Bi Marni, tanganku bertumpu pada lututnya. Dari posisi seperti ini aku bisa dengan leluasa melihat kontolku keluar masuk memek Bi Marni. Batang kontolku tampak mengkilat oleh lendir. "Clopp..! Clopp..! Clopp...!suara memek Bi Marni akibat sodokan kontolku. "Ohh...mmhhh..ahhh..!", desah Bi Marni. Tangannya *mencengkeram seprei, teteknya bergoyang bebas. Aku menikmati ekpresi Bi Marni, tempo sodokanku kupercepat. Belum ada tanda kontolku mau muntah.

Lalu tiba-tiba...."Ahhhh.....!, tubuh Bi Marni kejang, punggungnya melengkung sedikit terangkat, dagunya menengadah. Ku hentikan gerakan pinggulku. Memek Bi Marni berdenyut-denyut meremas batang kontolku. Beberapa detik kemudian tubuh Bi Marni kembali lemas, nafasnya tersengal.

 

Aku lalu mencabut kontolku yang masih tegang. "Bi nungging ya. Maman mau coba dari belakang", bisikku ke telinga Bi Marni. Dia hanya menatapku pasrah. Kubantu Bi Marni mengatur posisinya menungging. Bongkahan pantatnya tampak begitu semok, lubang memeknya merah merekah, punggungnya basah karena keringat. Aku langsung mengambil posisi bertumpu dengan lututku. Kuarahkan kontolku ke lubang memek Bi Marni. Dengan mudah kontolku ambles kedalam memek yang sudah sangat becek itu. Tanganku mencengkeram pantat Bi Marni. Kusodok memeknya dengan gerakan yang cepat, teteknya ikut bergoyang. Keringatku bercucuran dari kening dan punggungku. Aku merasa kontolku sebentar lagi mau muntah. Sodokan kontolku semakin liar. Beberapa saat kemudian kontolku memuntahkan spermaku ke dalam rahim Bi Marni. Crott...! Crott..! Aku cabut kontolku lalu terduduk lemas bersandar kedinding kamar, Bi Marni kembali berbaring terlentang. Karena kelelahan aku tertidur disamping Bi Marni.

Tiba-tiba aku merasa bahuku digoncang.

"Man..Maman..! Banguunn..!", bisik Bi Marni, "Rizal sudah pulang..!

Aku langsung melompat dari ranjang. Kulihat jam weker sudah menunjuk pukul 2 dinihari.

"Buukk.., ibuuuk.., buka pintunya..!", suara Rizal. Tok..tok..tok..!

Aku pontang-panting memakai celanaku. Bi Marni menyambar daster yang tergantung di pintu kamar. Sebelum sempat pakai baju, Bi Marni sudah mendorongku keluar. "Lewat dapur aja...!", katanya. Dengan mengenggam baju dan menjinjing sandal yang memang sengaja kubawa masuk kamar, aku menyelinap dari dapur menuju ke rumahku.

Aku bahagia bisa memuaskan Bi Marni dan membuatnya menikmati persetubuhan kami, tapi aku bingung kapan kesempatan seperti malam ini bisa datang lagi.

Orang bijak berkata..KALAU ADA KEMAUAN PASTI ADA JALAN...

 

← Prevt Bagian 2                                              Next Bagian 4 →

No comments:

Post a Comment